Moslem’s Dream

Hari ini saya mendapat motivasi dari seorang profesor doktor Agus Priyono. Beliau orang Indonesia yang kuliah di Malaysia. Beliau bersama Rektor dari Darul Na’im Kolej, Klantan Malaysia. Mereka datang ke As Syifa Boarding School (Asbos) untuk mengadakan kerja sama. Bahasa sederhananya program pertukaran pelajar. Ada sekitar 10 orang pelajar dari Malaysia yang akan tholabul ‘ilmi di kampus peradaban ini. Sebagai gantinya tahun depan mereka menerima mahasiswa dari lulusan asbos ini.

Asbos ternyata sudah banyak di lirik banyak orang. Bukan hanya tingkat Nasional saja namun merambah sampai ke Internasional. Usianya yang terbilang masih imut-imut menunjukkan cara berjalan yang masih tertatih sebenarnya, namun orang-orang begitu percaya pada asbos. Bukan imut-imut lagi tapi dianggap sudah bisa berlari kencang. Hhuff…. semoga bisa bertahan!

***

Tadi siang semua guru, karyawan dan wali asrama di undang untuk mendengarkan taujih yang super serius…(hehe).

Langsung ajalah ya…. alhamdulillah kembali saya diingatkan tentang motivasi membangun cita-cita kita. Cita-cita seorang muslim harus melampaui 2 dimensi.

Pertama, dimensi ruang. Allah menginginkan kita untuk menjadi rahmatan lil ‘alamin. Maka cita-cita kita tidak boleh terbatas pada apa yang kita mau saja. Misal: apa cita-cita mu? Jawabannya mungkin beragam, ada yang menjawab: doktor, profesor, insinyur, dokter, guru, dll. Ternyata jawaban seperti ini terbatas pada ruang.

Coba bandingkan antara kita dengan bumi, pasti kita tidak ada apa-apanya toh. Lalu coba bandingkan lagi bumi kita dengan planet jupiter, lalu bandingkan lagi planet jupiter dengan matahari, lalu bandingkan lagi matahari dengan nakturnus (sistem tata surya). Lalu bandingkan lagi dia dengan langit Allah yang berlapis (shidratul muntaha). Akhirnya seorang kita itu bukan siap-siapa toh. Tapi Allah menginginkan kita untuk menjadikan Islam rahmatan lil ‘alamin yang artinya rahmat bagi semesta alam. Itu artinya motivasi cita-cita kita harus tinggi (setinggi langitnya Allah, di arsy sana). Inilah yang dimaksud cita-cita melewati batas ruang.

Kedua, dimensi waktu. Ukuran cita-cita seorang muslim adalah ukuran amalan yang terus berjalan walaupun kita telah meninggal dunia. Allah memberikan rentan waktu kepada kita sampai ke syurgaNya. Maka dalam rentan waktu itu kita musti punya cita-cita tinggi berupa amal jariyah kita yang tidak akan putus pahalanya.

Karya seorang mukmin tidak trbatas pada dunia tetapi tanpa batas. Melebihi luasnya langit dan bumi. Cita-cita kita harus sampai pada tingkatan khalifah fil ardh.

Dan….

As Syifa Boarding school ini hanyalah bagian kecil dari cita-cita besar kita .

Subang, 15 Maret 2011

Iklan