Karena Allah aku di sini

“karena Allah aku disini, maka karena Allah pula

aku berada dimanapun kelak Ia menempatkan”

Begitulah kata terakhir yang aku simpulkan untuk menutup hari ini. Hati manusia memang seperti awan, kadang cerah dan kadang mendung. Dan siapa yang tidak ingin kehilangan harinya maka ia tidak boleh kehilangan makna dalam dirinya. Meskipun kita semua tau spiritual kita seperti lautan, kadang naik dan turun.

Jujur saja aku terharu saat melihat mereka yang menyemangatiku untuk ujian penerimaan guru baru sejak kemarin sampai hari ini. Untaian doa dan kalimat motivasi terus mengelilingiku. Mereka yang selama kurang lebih delapan bulan ini aku kenal. Kata-katanya bagai mantra yang membuatku terus berjuang dan tidak mau menyerah sampai tetes darah penghabisan. Terus mencoba walaupun kemampuannya terbatas.

Pagi itu mungkin adalah pagi yang kesekian kalinya aku gugup menghadapi sebuah ujian. Selama seminggu ini bisa dibilang sedang dalam keadaan “voltase tinggi”. Istilah voltase tinggi sering aku pakai saat-saat mempersiapkan sebuah kompetisi yang penilainya adalah manusia. Kalau ingat hari ini seperti kembali ke masa lampau saat aku hendak seminar hasil penelitian di kampus. Huufft… pokoknya bener-bener grogi.

Mulai dari hari senin kondisi tubuh kurang fit, mulai demam, tidak nafsu makan, asam lambung meningkat, menangis yang tidak jelas penyebabnya, dan pekerjaanku menjadi kurang beres. Ada yang bilang gejala ini kemungkinan disebabkan karena aku stress akan menghadapi ujian. Hihihi…segitunya…

Ya, akhirnya pagi itu suhu tubuhku normal namun mendadak suhu tangan dan kakiku menjadi kaku seperti es *hehe..berlebihan ya J* . Apalagi saat masuk ke dalam ruangan, kira-kira berukuran 6 x 12 m itu dan duduk di dekat pintu yang anginnya sesekali membuat ngantuk, tambah aja makin mati gaya *tsaah*. Tapi sebisa mungkin aku tetap percaya diri dan ingat lagu AFI Junior yang nadanya ‘aku bisa, aku pasti bisa. Ku harus terus berusaha. Bila ku gagal itu tak mengapa, setidaknya ku telah mencoba…’.

Di pagi berikutnya tidak kalah serunya karena kakiku mulai gemetar dan tanganku kembali dingin. Apalagi ditambah pagi itu hujan gerimis. Jantungku memompa darah lebih cepat lagi. Panik sudah mulai menghampiri. Namun, aku berusaha membuang semua ketakutan-ketakutan itu. Bukankah aku sudah berani memilih dengan segala konsekuensi yang akan aku terima nanti? Saat awal mengirimkan aplikasi lamaran waktu itu. So, kalau mau berhasil nggak boleh setengah-setengah. Lanjutkan !!!

Kemudian tiba saatnya aku masuk ke dalam ruang kelas 7 khadijah. Aku mulai memperhatikan sosok-sosok yang ada dihadapanku. Mereka adalah orang yang kukenal selama delapan bulan ini. Mereka adalah orang yang sudah tahu dimana kelemahan-kelemahanku. Mereka yang setiap hari betemu dan menunjukkan sifat aslinya yang baik maupun yang ‘cari perhatian’. Dan mereka pula yang selalu memberiku semangat melangkah ke dalam ruangan itu.

Deg…deg…deg….

Tiba-tiba ada sebagian dari mereka dari kelas IPS berhamburan di dalam ruang kelasku *padahal aku masuk kelas yang anak-anaknya dari IPA1, so ngapain coba anak IPS belajar Biologi? Mereka bukan cinta Biologi tapi ini mah cinta sama Bunda yang ngajarnya, hehehe. Deg! Aku mulai panik! Apa yang harus aku lakukan? Banyak yang ingin melihat bunda tercintanya *ehem* mengajar Biologi. Sebenarnya mungkin maksud mereka baik, hanya ingin menyemangati. Namun, sesungguhnya itu menambah diriku makin grogi. Kalau saja ada kasur di dalam kelas itu mungkin aku akan memilih untuk pingsan *tapi sayangnya nggak ada, hehe*.

Bismillah, ya Allah mudahkan lisanku berbicara. Rupanya waktu 20 menit terasa sebentar, belum selesai menjelakan tiba-tiba bel sudah berbunyi. Dan aku baru tersadar bahwa ternyata aku sudah melewati ujian hari ini. Huufffttt…. saat keluar dari kelas, mereka berhamburan keluar dan menyemangati lagi,”gimana bun? Deg degan ya?”, “sukses ya bun….!”,dll.

Alhamdulillah satu tahap lagi terlewati. Nafasku mulai tersengal karena harus mendaki bukit untuk wawancara. Sesi wawancara yang lebih tepatnya aku katakan sebagai sesi ‘curcol’. Hehe…bukan bermaksud apa-apa. Tapi nggak tau kenapa, obrolanku itu sepertinya curahan hati dah. Mungkin jawaban dari pertanyaan itu sebenarnya tidak perlu detail dikatakan tapi kok aku semangat banget menjawab pertanyaan itu sampai-sampai yang tidak di tanyapun di masukkan dalam penjelasanku. Duh..duh..duh…

Akhirnya aku melewati SEMUAnya…oh senangnya bisa segera beristirahat *ck..ck..ck..istirahat tuh di syurga mbak…*. Saatnya aku tawakal. Menyerahkan semua hasil terbaiknya kepada Allah. Optimis harus tetep ada tapi juga perlu realistis. Siap menang dan siap gagal. Ya, selama seminggu ini aku sudah menyiapkan mentalku untuk menerima konsekuensi dari pilihanku ini.

Walaupun banyak orang yang khawatir *cie…* iya, karena ada yang bilang gini ‘duh, bunda miftah udah tau dengan konsekuesnsinya belum ya?’ dengan nada khawatir. Kalian tau konsekuensinya jika aku gagal? Yap, secara otomatis aku akan dianggap resign dari pekerjaanku. Itulah yang membuat beberapa orang khawatir. Walaupun agak ‘kejam’ tapi aku yakin hal ini untuk kebaikan lembaga (mu’asasah) tempat aku bekerja. Menuju profesionalitas lembaga.

Sebenarnya ada yang janggal dengan sistem baru ini. Kok ada yang nggak kompak gitu deh. Tapi ya sudahlah toh aku sudah siap menghadapi resikonya kok. Maklum beginilah nasib rakyat biasa. Punya aspirasi tapi tak pandai menyampaikan *padahal dulu humas kammda, moso kayak gini aja ndak berani bilang*.

Semua yang telah terjadi biarlah menjadi sebuah pelajaran hidup. Semua orang pasti punya cerita dalam menggapai mimpi-mimpinya. Jatuh bangunnya mereka merajut cita-cita. Kegagalan mungkin akan singgah dalam kehidupan kita, tapi jadikanlah ia sebagai anak tanggak keberhasilan. Dalam kehidupan ini apa-apa yang tidak mungkin seringkali karena kita tidak berani mencoba.

Kesuksesan adalah milik kita semua. Seorang muslim harus berani meraih mimpinya karena kenyataan hari ini kita lah generasi yang selalu dinanti-nanti untuk membangkitkan kejayaan Islam di segala lini dan dengan profesi kita yang beragam. Semua sektor harus diisi oleh orang-orang amanah, yang jelas kompetensinya, profesional kerjanya, bersih dari nafsu duniawi dan peduli sesama.

Oke deh…. semoga ada manfaat yang bisa diambil. Salam semangat!! Allahu akbar!!

Subang, 8 Mei 2011

Gen Rabbaniku mulai ON kembali saat berani membuat keputusan….*tsaah, mantab jaya*

Iklan