PUSPA ; Pungut Sampah buang Pada Tempatnya

Namanya Dzulfikar Ali Hafiz. Anak yang cerdas dan bersahaja. Saya hafal namanya sejak dia minta di ajarkan biologi karena pekan sebelumnya tidak hadir di bimbel.

Entah kenapa rasanya saya sangat tertarik sama anak itu. Dia ramah, pandai dan selalu memperhatikan dengan serius saat belajar di kelas. Kalau saya bilang saya kagum karena kepintarannya mungkin sudah wajar dan biasa. Secara, dia masuk ke dalam kelas A.

Baca lebih lanjut

Tentang Mereka

Saya ingin bercerita tentang mereka. Mereka yang mengisi hari-hari saya selama empat bulan ini. Ada banyak hal yang saya dapatkan dari mereka. Sebuah kekuatan. Kekuatan luar biasa yang mendorong semangat belajar saya. Belajar sebagai seorang guru sesungguhnya.

Saya tidak perlu menceritakan satu per satu kerja-kerja saya bukan? Saya hanya ingin kalian tahu bahwa menjadi guru adalah perjuangan luar biasa. Pagi, siang, dan malam pikirannya selalu tercurah untuk mereka. Walaupun mereka bukan anak kandung saya, tapi mereka adalah anak-anak masa depan yang akan menjadi generasi terbaik di zamannya.

Ada perasaan kesal, marah, atau bahkan sedih yang luar biasa. Sering saya mengeluh tentang mereka (siswa putra). Tapi semakin saya banyak mengeluh justru membuat saya semakin penasaran. Banyak pertanyaan muncul di benak saya, “Bagaimana ini ? Apa yang harus saya lakukan sekarang ? Apa yang bisa membuat mereka serius belajar ? Haruskah saya menuruti semua kemauan mereka ? Apakah cara mengajar saya salah ? Apakah hanya di pelajaran saya saja mereka tidak mengerti ? dan lain sebagainya”.

Ingin rasanya saya memuntahkan semua keluhan ini ke tempat sampah agar tidak ada lagi rasa mual dan pusing. Ada sedikit nada kecewa dalam hati saat pagi-pagi buta mempersiapkan segalanya, jungkir balik menjalankan semua amanah ini, berusaha memenuhi semua tuntutan kerja, dan nyatanya saat di kelas semua rencana itu tidak terlakasana. Huufftt….

Itu adalah keluhan saya, yang sebagiannya telah saya buang jauh-jauh dari pikiran. Sekarang, mata hati dan pikiran saya terbuka lebar. Tersadar oleh sebuah sapaan bahkan teguran mereka. Saya sengaja bertanya kepada mereka satu per satu tentang perasaan mereka belajar bersama saya. Ada beragam kata yang mereka tuliskan. Hhmmm… semua menjadi bahan evaluasi empat bulan pertama yang begitu berharga.

Sebenarnya bisa saja saya menyangkal semua kritik (destruktif) yang mereka tuliskan, tapi buat apa? Toh malah membuat saya capek dan terllihat membela diri. Lagi pula mereka juga tidak akan mengerti apa yang saya rasakan karena yang mereka mengerti adalah apa yang mereka sedang rasakan saat itu. Alhamdulillah presentasenya lebih banya kritik yang bersifat membangun (konstruktif) untuk perbaikan ke depannya.

Penecerahan itu membuat saya kembali harus belajar keras. Mempersiapkan energi 100x lipat dari biasanya. Memasok kesabaran di atas kesabarannya nabi Ayyub. Menumbuhkan optimisme bahwa saya bisa membawa mereka tempat yang menyenangkan saat belajar. Saya semakin bangga di berikan kesempatan mengajarkan mereka, saya semakin cinta dan semakin ingin menaklukkan mereka dengan ilmu pengetahuan.

Kelak keluhan-keluhan itu akan berubah sendirinya menjadi rasa haru dan bangga pada mereka. Setiap hari adalah hari yang penuh semangat, penuh kebahagiaan dan penuh optimisme bersama mereka. Saya bertekad menjadi guru terbaik bagi mereka.

Karena terjatuh aku pun BANGKIT
Karena tertinggal aku pun MENGEJAR
Karena sering dipukul aku pun KUAT
[Yuzar CF, 8 IK]

Alergi dengan orang kaya dan pintar

Foto dari Google

Foto dari Google

Dulu, saya paling alergi melihat orang yang kaya dan pintar. Sebenernya sampai sekarang juga sih, tapi alhamdulillah rasa alergi tersebut telah dibingkai dengan sudut pandang baru sebagai seorang muslim sehingga tidak menyebabkan gatal-gatal atau iritasi ::halah::

Mungkin kesalahan cara pandang saya ini salah terhadap mereka. Saat masih kecil, keluarga saya adalah keluarga yang sederhana –sampai sekarang juga sih- dan terbiasa hidup apa adanya.  Ayah dan ibu sepertinya tidak pernah memberikan benda-benda istimewa yang kami minta. Mereka hanya mengusahakan satu hal agar semua anak-anaknya bisa sekolah hingga jenjang yang paling tinggi.

Dulu saya menganggap orang pintar dan kaya selalu punya level dalam berinteraksi dan bersosialisasi. Mereka memiliki kecenderungan bergaul dengan orang-orang yang ‘sekufu’ saja. Hmm…makanya saya suka nggak PeDe dengan mereka. Contohnya aja sepupu saya yang dari keluarga ayah, rata-rata kuliah di FK dan univ ternama di Indonesia. Beuhh…ini nih yang membuat minder banget.

Tapi ternyata saya salah… sebagaimana dengan saya yang berinteraksi dengan orang lain yang tidak kuliah misalnya maka perasaannya sama saja. Nggak ada bedanya kok. Teman ya teman, nggak ada hubungannya dengan kaya atau miskin, bodoh atau pintar.  Kayak itu artinya banyak memberi, pintar itu artinya mau berbagi ilmu dan makna.

Dan nggak ada juga tuh istilah-istilah tersebut di mata Allah. Sebab yang terpenting dari semua itu adalah ketakwaan. kalau yang ini boleh deh kita milih-milih.

Nah dari situ saya bisa menyimpulkan juga bahwa orang-orang kaya dan pintar juga tidak mempermasalahkan “hal-hal yang saya pikirkan” itu.

Haha…ada-ada saja yah 

Alergi dengan orang kaya dan pintar

Dulu, saya paling alergi melihat orang yang kaya dan pintar. Sebenernya sampai sekarang juga sih, tapi alhamdulillah rasa alergi tersebut telah dibingkai dengan sudut pandang baru sebagai seorang muslim sehingga tidak menyebabkan gatal-gatal atau iritasi ::halah::

Mungkin kesalahan cara pandang saya ini salah terhadap mereka. Saat masih kecil, keluarga saya adalah keluarga yang sederhana –sampai sekarang juga sih- dan terbiasa hidup apa adanya. Ayah dan ibu sepertinya tidak pernah memberikan benda-benda istimewa yang kami minta. Mereka hanya mengusahakan satu hal agar semua anak-anaknya bisa sekolah hingga jenjang yang paling tinggi.

Dulu saya menganggap orang pintar dan kaya selalu punya level dalam berinteraksi dan bersosialisasi. Mereka memiliki kecenderungan bergaul dengan orang-orang yang ‘sekufu’ saja. Hmm…makanya saya suka nggak PeDe dengan mereka. Contohnya aja sepupu saya yang dari keluarga ayah, rata-rata kuliah di FK dan univ ternama di Indonesia. Beuhh…ini nih yang membuat minder banget.

Tapi ternyata saya salah… sebagaimana dengan saya yang berinteraksi dengan orang lain yang tidak kuliah misalnya maka perasaannya sama saja. Nggak ada bedanya kok. Teman ya teman, nggak ada hubungannya dengan kaya atau miskin, bodoh atau pintar. Kayak itu artinya banyak memberi, pintar itu artinya mau berbagi ilmu dan makna.

Dan nggak ada juga tuh istilah-istilah tersebut di mata Allah. Sebab yang terpenting dari semua itu adalah ketakwaan. kalau yang ini boleh deh kita milih-milih.

Nah dari situ saya bisa menyimpulkan juga bahwa orang-orang kaya dan pintar juga tidak mempermasalahkan “hal-hal yang saya pikirkan” itu.

Haha…ada-ada saja yah

Mendidik itu it’s wonderful things

Luar biasa… hari ini saya mendapat manfaat dari tulisan seorang teman di multiply. Pelajaran yang saya dapat adalah biarkanlah seseorang berganti haluan (cita-cita) selama itu masih mulia. Berganti profesi bukan berarti tidak sabaran dalam menjalankan amanah sebelumnya. Tapi mungkin saja dia sedang mencari alasan kuat untuk memilih perannya berkontribusi di dunia ini. Mungkin juga seseorang itu perlu meyakinkan lagi jalan yang memang harus dia pilih untuk mendedikasikan segala potensinya.

Jangan pernah melarang seseorang untuk berkembang, memilih jalan yang diinginkannya.Biarkan dia memilih dan menguatkan azzamnya. Seringkali kita merasa berat menjalankan sesuatu hanya karena tidak nyaman maka biarkanlah setiap diri kita menemukan jalan juangnya sendiri ^__^
Baca lebih lanjut