Dear Boss

Dear Boss

Kami semua ingin diperhatikan, ingin dilihat, agar merasa istimewa dan unik. Dan untuk memastikan bahwa kami mendapat cukup perhatian, kami semua mengembangkan strategi-strategi untuk menariknya.

Baca lebih lanjut

Iklan

kelas VIII Ibnu Sina

Hari itu saya menangis. Keluar meninggalkan kelas dan tidak kembali lagi. Rasanya ubun-ubun saya mendadak panas dan mengeluarkan asap (lebay ^^). Menghadapi kelas yang satu ini benar-benar membuat saya frustasi. Entah bagaimana caranya mengajar di kelas ini. Kelas VIII Ibnu Sina. Fuiiihh…

 

Bermula dari seorang anak bernama AS yang terkena kasus berat dan terancam DO. Semenjak itu sikapnya mulai aneh, semakin bertambah nakal di kelas. Katanya percuma menjadi baik, karena merasa sudah di labeli sebagai anak nakal. Ditambah seorang anak lagi. Siswa yang baru beberapa bulan mutasi dari Malaysia. Namanya EP.

Bel masuk setelah jam istirahat sudah 10 menit yang lalu berbunyi. Tapi mereka belum datang, maka saya tetap memulai aktivitas mengajar sejak tadi. Dalam hitungan 5 menit lagi jika mereka tidak datang, tidak akan diizinkan masuk. Tapi ternyata mereka beruntung saat waktunya hampir habis, mereka datang.

Dengan watados (wajah tanpa dosa) mereka masuk sambil membawa makanan di dalam kelas. Saya menjelaskan, mereka ngobrol. Oke, saya berikan peringatan 1. Kemudian mereka minum, saya berikan peringatan 2. Kemudian dengan nada yang meremehkan mereka menimpali setiap saya bicara. Terakhir mereka nantangin dengan makan di hadapan saya langsung. Sampai akhirnya saya menghampiri meja mereka.

Saya bilang, “hey, kalian mau belajar atau tidak? Kalau mau makan silahkan di luar. Kamu mau keluar atau ibu yang keluar!”. Sudah nggak kuat lagi, akhirnya mendadak langkah kaki saya gemetar. Ada seorang anak yang berbicara dengan saya tapi tidak saya perdulikan. Khawatir meledak saya pun keluar kelas dan tidak kembali lagi. Padahal buku-buku saya masih di meja.

Awalnya hanya ingin menenangkan diri saja, sekedar menurunkan emosi di ruang guru. Tapi malah tambah kejer. Keluar deh air mata T_T, sedih sekali saat itu. Khawatir ketahuan saya sembunyi di ruang TU. Mulai terdengar anak-anak mencari-cari saya….ingin meminta maaf katanya.

Ya Allah, harus bagaimana saya menghadapi keadaan seperti ini. Saya merasa gagal mengendalikan emosi di hadapan anak didik saya. Walaupun menurut guru-guru yang lain sikap saya sudah tepat. Sekali-kali mereka harus diberikan shock terapi. Tapi lagi-lagi saya kalah dengan keadaan seperti ini.

Keesokan harinya saya mengajar di putra. Sebenarnya masih trauma >_< . Saya melihat AS di koridor atas. Heuu, menyebalkan saya belum sempurna menstabilkan emosi malah di panggil-panggil lagi sama dia. “Bu, Bu miftah…Bu, saya minta maaf bu…ah di kacangin…jero ah…..bla..bla…” sambil teriak dari koridor atas. Saya hanya diam aja, so cool.

Keesokkan harinya lagi, pas banget anak itu ada di tangga dekat lapangan. Mengulang hal yang sama seperti kemarin dengan meminta maaf. Dengan keberanian yang penuh saya berucap “Apa AS…?”. “bu, saya minta maaf bu”. Sambil lewat saya katakan “iyaa..”.

Anak-anak itu membuat saya selalu belajar memaknai setiap peristiwa bersama mereka. Inilah seni membentuk manusia. Perlu manajemen tingkat tinggi dalam menghasilkan manusia berkualitas. Di sinilah saya belajar menjadi seorang guru peradaban.

~_~

Berprasangka baik kepada anak yang berperilaku baik adalah hal mudah.Akan tetapi membangun prasangka baik terhadap anak yang bertingkah buruk,bagaimana memulainya??

Mengembalikan spirit yang hilang

Dalam perjalanan hidup kita telah bergulir begitu banyak peristiwa hidup. Ada suka dan duka. Ada senang dan sedih. Ada sukses dan gagal. Ada semangat dan lemah. Ada saat berjuang dan saat lelah. Ada gembira, bahagia, terharu, kecewa, patah hati dan semua perasaaan yang pernah tumpah ke kehidupan kita. Semua itu merupakan rangkaian skenario yang telah Allah tetapkan pada sebuah garis takdir hidup kita.

Selama masa itu idealisme sebagai seorang muslim kita pertaruhkan. Semakin lama waktu bergulir maka akan semakin kencang angin yang menerpa kehidupan kit, baik dari eksternal lingkungan maupun internal diri kita sendiri. Dan terkadang mampu mengoyahkan visi dan misi hidup yang telah kita rancang. Di setiap jejak kita berusaha untuk selalu menjaga diri. Maka yang mampu bertahan, dialah pemenangnya.

Kehidupan kita memang layak untuk diperjuangkan karena seorang muslim yang dilahirkan ke dunia ini diciptakan untuk menjadi pemimpin.

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” (QS. Al baqarah:30)

Setiap pemimpin harus mampu mengatur kondisi jiwanya, menekan segala hawa nafsu dirinya. Minimal kita bisa memimpin diri sendiri sebelum orang lain. Sungguh, ini adalah pekerjaan berat yang harus dilakukan sepanjang kita hidup di dunia. Karena kita semua tahu bahwa setiap kita akan di uji pada titik terlemah kita. Maka, bersegeralah memperbaharui taubat kita kepada Allah. Dan sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dalam perjuangan ini selalulah berdoa agar Allah terus membimbing setiap langkak kaki kita agar bernilai pahala di sisiNya. Dan lebih penting adalah menjaga keikhlasan setiap niat perjuangan hidup kita untuk mendapatkan ridho dari Nya.

Semoga hingga akhir nafas kita, Allah berkenan memayungi kehidupan kita dengan cahaya hidayahNya. Aamiin…aamiin…yaa Robbal’alamin.

# posting pertama di tahun 2012