Membuat Cakram Pelangi

Pernahkah kalian memperhatikan warna cahaya matahari? menurut kalian, apa warna cahaya matahari tersebut? mungkin, di antara kalian yang mengatakan cahaya matahari berwarna putih. sebenarnya, cahaya matahari yang terlihat oleh kita terdiri atas berbagai macam warna. hal tersebut dapat dibuktikan dengan cara menguraikan cahaya matahari dengan bantuan cermin, air jernih, dan cakram warna.

Sekarang kita akan membuktikan hal tersebut menggunakan cakram warna…. mari kita membuatnya….

Siapkan alat dan bahannya yuk: kertas karton, jangka, pensil, gunting, kertas marmer, benang dan cutter (pisau kertas)

Langkah-langkahnya sebagai berikut!

1. Buatlah bentuk lingkaran pada kertas karton dengan menggunakan jangka!

images (20)

2. Potong lingkaran dengan menggunakan gunting

3. Bagilah lingkaranmenjadi tujuh bagian, lalu berilah warna masing-masing bagian dengan menempelkankertas marmer dengan warna berbeda-beda.

cakram_warna

4.buatlah lubang di bagian tengah kertas, kemudian pasang seutas benang / tali kasur pada dua lubang tersebut.

5. Putarlah cakram tersebut dengan mengendurkan talinya!

Jpeg

ini hasil karya anak-anak…. karena kertas marmer terbatas jadi seadanyanya ya… hehehe….

 

6. Amati warna yang terlihat saat cakram berputar secara cepat. amati warna apa yang muncul?

ini dia.... cakram pelangi.... design by sains club of SDIT Alam Harapan Ummat Purbalingga

ini dia…. cakram pelangi…. design by sains club of SDIT Alam Harapan Ummat Purbalingga

 

 

Virus Varicella Zoster a.k.a Cacar Air

Dear lovely reader…….

Cacar air. Ya, penyakit yang disebabkan oleh virus Vericella zoster ini akan kita bahas sedikit ya.  Tepatnya tiga minggu yang lalu saya terkena cacar di usia 28 tahun. Sepengetahuan orang tua, saya memang belum memiliki riwayat cacar. Mungkin saat tubuh saya drop virus ini kemudian bereplikasi dan menunjukkan eksistensinya.

Penyakit ini sungguh…sungguh…membuat saya tersiksa. Tapi alhamdulillah sudah lewat ya. Biasanya penyakit ini akan tidak mudah disadari telah bersarang dalam tubuh sejak awal, terutama masa inkubasi yang dibutuhkan bisa sampai 1-2 minggu. Pada saat tubuh panas saya pun belum menyadari. Saya mulai menyadari saat ada ruam merah di bagian atas perut dan sekitar punggung. Namun itu sudah terlambat untuk tertangani karena sudah memasuki hari ke 3. Lalu di hari ke 4 saya baru periksa ke dokter dan ternyata virus ini sudah menyebar tidak karuan.

Tanda-tanda yang sempat terekam oleh saya adalah suhu badan saat demam tidak terlalu tinggi, namun puncak demam terjadi di hari ke  4 dan 5 dimana saya merasakan menggigil dan panas disekujur badan ngga karuan. Luar biasa menahan rasa sakit yang disebabkan munculnya lesi / vesikel berisi cairan ini. Lesi paling banyak muncul di sekitar punggung, dada dan wajah. Saat itu saya sampai tidak kenal dengan wajah yang ada di cermin. Ya, wajah pun langsung full dengan lesi ini.

Foto-0654

Mengapa di bagian wajah penuh dengan lesi? Saya mencoba flashback. Pada awal ditemukan lesi berisi cairan yang ada di atas perut ini saya mengira ini jerawat, tanpa saya sadari saat mandi dan mengelap dengan handuk lesi tersebut sudah dalam keadaan pecah. Saya belum sadar kalo itu cacar. Saat berwudhu dan mandi berikutnya biasanya saya mengelap wajah dengan handuk tadi yang mungkin sudah tercemar banyak virus tadi. Nah, setelah itu lesi mulai bermunculan di bagian wajah  diikuti di mulut dan lidah yang menyebabkan tenggorokkan seperti radang. Susah nelen makanan. Bagian kepala juga rasanya nyu..nyut..nyut… saat sedang bersujud untuk sholat kepala rasanya sakiiit sekali. Matapun sampai iritasi. Nikmat sekali ya…..

Kebingungan mulai terjadi…. dua anak saya yang belum pernah kena cacar ini tidur sekamar semua dengan saya. Zaidan (3 tahun 10 bulan) dan Qonita (12 bulan) yang masih menyusui. Kebetulan suami dan saya sedang LDR jadi hanya akhir pekan kami bisa berkumpul. Dan dalam kesendirian itu kadang saya merasa sedih #halah***    disaat sedih itulah dengan kondisi badan yang tidak karuan terutama saat malam hari saya harus mengurus anak-anak juga. Sampai dengan hari ke 3 saya masih sanggup untuk melakukan semua  mulai dari masak, mencuci baju , menyuapi, memandikan anak-anak dan lain-lain…. namun di hari ke 5 saya pasang bendera putih alias nyerah.  Dengan sangat terpaksa Qonita saya titipkan di rumah khadimat. Namun ASIP tetap saya kirimkan untuk dia, tapii berhubung saya minum obat terus jadi susunya ngga enak gitu dan ngga habis. ASIP terlihat berwarna kehijauan. So, di sambung sufor deh.. fuiihh………

Oke, saya menikmati masa-masa itu (tapi kalau disuruh mengulang lagi ngga mau deh). Saya mulai membuka fiqih sunnah Sayyid Sabiq tentang adab orang sakit. Di  sana dikatakan kita boleh loh mengeluh terhadap rasa sakit yang kita alami tapiii…ada tapi nya yaa…. sebelumnya kita harus bersyukur dan bersabar terlebih dahulu terhadap ujian yang Allah berikan ini. ikhlas menerimanya begitu. Kemudian orang yang terkena cacar dalam buku ini harus diisolasi. Dia tidak boleh melakukan perjalanan keluar yang dapat berakibat menularkan sakitnya. Suami selalu memantau kondisi saya, mendoakan dan memberi nasehat agar bersabar dan memperbanyak dzikir. Disitu kadang saya merasa tenang… #eaa…. perhatiannya itu loh subhanallah deh… apalagi saat misua pulang ke rumah, dia yang merawat saya dengan baik, pekerjaan rumahpun dikerjakan semua. Emang dasarnya sudah rajin sejak masih kecil juga sih…

Oh iya untuk penyakit cacar ini FYI tidak ada obatnya loh, penyakit ini akan sembuh dengan sendirinya dengan bantuan kekebalan imunitas dalam tubuh kita karena penyakit ini berasal dari virus. Hanya saja untuk mengatasi demam dan kemungkinan infeksi biasanya dokter akan memberikan parasetamol, antibiotik dan bedak salycil 2% atau suntikan immunoglobulin bagi yang kondisinya imun lemah. Berbagai perawatan wajah dan kulit saya jalani #eh. Mulai dari rajin memberi bedak ke seluruh badan, mandi dengan rebusan daun sirih kadang pakai PK juga, maskeran dengan jagung muda dan menggunakan sabun antiseptik. Pastikan diri kita tetap dalam keadaan Hygine ya…..

Satu lagi yang ngga kalah penting pemirsah…. ini adalah obat yang paling mujarab selama saya cacar dan berfungsi juga mempercepat cacarnya kering. Yap, Habbatussuda oil dan propolis. Dahsyat sekali…. bisa juga di bantu dengan jamu kunyit asem untuk mempercepat pengempesan pada lesi.

Ingat ya! Selama proses lesi layu sampai kering itu badan rasanya gateelll banget. Pingin nggarukkk…. malah suka ngga sadar ke potel tangan. Huufffttt…. Dan ternyata saat lesi ini kering disitulah penularan akan terjadi. Si virus akan mencari inang yang baru untuk bereplikasi. Hati-hati saat kontak dengan orang lain.

Sekarang cacar ini telah meninggalkan jejak yang sangat banyak, terutama bagian wajah. Semua orang yang ketemu saya mesti memandang dengan penuh keanehan dan mungkin juga merasa kasihan. Curhat ke suami tentang hal ini, eh malah dapet nasihat, “ngga apa2 mi…. abi tetep sayang sama umi…” hadooh, langsung adem…. tapi tetap saja sampai sekarang kepikiran. Ya karena saya bekerja, bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang menyebabkan minder juga pada akhirnya…. (sabaaarrr….)

Setelah dua minggu berlalu ternyata anakku tertular… hiks sedih banget rasanya…. cerita untuk qonita bersambung dulu yah…..

oke deh cukup ya.. semoga bermanfaat !

Pwt, 24 Maret 2015