Virus Varicella Zoster a.k.a Cacar Air

Dear lovely reader…….

Cacar air. Ya, penyakit yang disebabkan oleh virus Vericella zoster ini akan kita bahas sedikit ya.  Tepatnya tiga minggu yang lalu saya terkena cacar di usia 28 tahun. Sepengetahuan orang tua, saya memang belum memiliki riwayat cacar. Mungkin saat tubuh saya drop virus ini kemudian bereplikasi dan menunjukkan eksistensinya.

Penyakit ini sungguh…sungguh…membuat saya tersiksa. Tapi alhamdulillah sudah lewat ya. Biasanya penyakit ini akan tidak mudah disadari telah bersarang dalam tubuh sejak awal, terutama masa inkubasi yang dibutuhkan bisa sampai 1-2 minggu. Pada saat tubuh panas saya pun belum menyadari. Saya mulai menyadari saat ada ruam merah di bagian atas perut dan sekitar punggung. Namun itu sudah terlambat untuk tertangani karena sudah memasuki hari ke 3. Lalu di hari ke 4 saya baru periksa ke dokter dan ternyata virus ini sudah menyebar tidak karuan.

Tanda-tanda yang sempat terekam oleh saya adalah suhu badan saat demam tidak terlalu tinggi, namun puncak demam terjadi di hari ke  4 dan 5 dimana saya merasakan menggigil dan panas disekujur badan ngga karuan. Luar biasa menahan rasa sakit yang disebabkan munculnya lesi / vesikel berisi cairan ini. Lesi paling banyak muncul di sekitar punggung, dada dan wajah. Saat itu saya sampai tidak kenal dengan wajah yang ada di cermin. Ya, wajah pun langsung full dengan lesi ini.

Foto-0654

Mengapa di bagian wajah penuh dengan lesi? Saya mencoba flashback. Pada awal ditemukan lesi berisi cairan yang ada di atas perut ini saya mengira ini jerawat, tanpa saya sadari saat mandi dan mengelap dengan handuk lesi tersebut sudah dalam keadaan pecah. Saya belum sadar kalo itu cacar. Saat berwudhu dan mandi berikutnya biasanya saya mengelap wajah dengan handuk tadi yang mungkin sudah tercemar banyak virus tadi. Nah, setelah itu lesi mulai bermunculan di bagian wajah  diikuti di mulut dan lidah yang menyebabkan tenggorokkan seperti radang. Susah nelen makanan. Bagian kepala juga rasanya nyu..nyut..nyut… saat sedang bersujud untuk sholat kepala rasanya sakiiit sekali. Matapun sampai iritasi. Nikmat sekali ya…..

Kebingungan mulai terjadi…. dua anak saya yang belum pernah kena cacar ini tidur sekamar semua dengan saya. Zaidan (3 tahun 10 bulan) dan Qonita (12 bulan) yang masih menyusui. Kebetulan suami dan saya sedang LDR jadi hanya akhir pekan kami bisa berkumpul. Dan dalam kesendirian itu kadang saya merasa sedih #halah***    disaat sedih itulah dengan kondisi badan yang tidak karuan terutama saat malam hari saya harus mengurus anak-anak juga. Sampai dengan hari ke 3 saya masih sanggup untuk melakukan semua  mulai dari masak, mencuci baju , menyuapi, memandikan anak-anak dan lain-lain…. namun di hari ke 5 saya pasang bendera putih alias nyerah.  Dengan sangat terpaksa Qonita saya titipkan di rumah khadimat. Namun ASIP tetap saya kirimkan untuk dia, tapii berhubung saya minum obat terus jadi susunya ngga enak gitu dan ngga habis. ASIP terlihat berwarna kehijauan. So, di sambung sufor deh.. fuiihh………

Oke, saya menikmati masa-masa itu (tapi kalau disuruh mengulang lagi ngga mau deh). Saya mulai membuka fiqih sunnah Sayyid Sabiq tentang adab orang sakit. Di  sana dikatakan kita boleh loh mengeluh terhadap rasa sakit yang kita alami tapiii…ada tapi nya yaa…. sebelumnya kita harus bersyukur dan bersabar terlebih dahulu terhadap ujian yang Allah berikan ini. ikhlas menerimanya begitu. Kemudian orang yang terkena cacar dalam buku ini harus diisolasi. Dia tidak boleh melakukan perjalanan keluar yang dapat berakibat menularkan sakitnya. Suami selalu memantau kondisi saya, mendoakan dan memberi nasehat agar bersabar dan memperbanyak dzikir. Disitu kadang saya merasa tenang… #eaa…. perhatiannya itu loh subhanallah deh… apalagi saat misua pulang ke rumah, dia yang merawat saya dengan baik, pekerjaan rumahpun dikerjakan semua. Emang dasarnya sudah rajin sejak masih kecil juga sih…

Oh iya untuk penyakit cacar ini FYI tidak ada obatnya loh, penyakit ini akan sembuh dengan sendirinya dengan bantuan kekebalan imunitas dalam tubuh kita karena penyakit ini berasal dari virus. Hanya saja untuk mengatasi demam dan kemungkinan infeksi biasanya dokter akan memberikan parasetamol, antibiotik dan bedak salycil 2% atau suntikan immunoglobulin bagi yang kondisinya imun lemah. Berbagai perawatan wajah dan kulit saya jalani #eh. Mulai dari rajin memberi bedak ke seluruh badan, mandi dengan rebusan daun sirih kadang pakai PK juga, maskeran dengan jagung muda dan menggunakan sabun antiseptik. Pastikan diri kita tetap dalam keadaan Hygine ya…..

Satu lagi yang ngga kalah penting pemirsah…. ini adalah obat yang paling mujarab selama saya cacar dan berfungsi juga mempercepat cacarnya kering. Yap, Habbatussuda oil dan propolis. Dahsyat sekali…. bisa juga di bantu dengan jamu kunyit asem untuk mempercepat pengempesan pada lesi.

Ingat ya! Selama proses lesi layu sampai kering itu badan rasanya gateelll banget. Pingin nggarukkk…. malah suka ngga sadar ke potel tangan. Huufffttt…. Dan ternyata saat lesi ini kering disitulah penularan akan terjadi. Si virus akan mencari inang yang baru untuk bereplikasi. Hati-hati saat kontak dengan orang lain.

Sekarang cacar ini telah meninggalkan jejak yang sangat banyak, terutama bagian wajah. Semua orang yang ketemu saya mesti memandang dengan penuh keanehan dan mungkin juga merasa kasihan. Curhat ke suami tentang hal ini, eh malah dapet nasihat, “ngga apa2 mi…. abi tetep sayang sama umi…” hadooh, langsung adem…. tapi tetap saja sampai sekarang kepikiran. Ya karena saya bekerja, bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang menyebabkan minder juga pada akhirnya…. (sabaaarrr….)

Setelah dua minggu berlalu ternyata anakku tertular… hiks sedih banget rasanya…. cerita untuk qonita bersambung dulu yah…..

oke deh cukup ya.. semoga bermanfaat !

Pwt, 24 Maret 2015

Lulus asix

Alhamdulillah….

 

pure apel

pure apel

Qonita lulus asi eksklusif S-1, walaupun bukan dengan gelar cum laude. Semua bisa jika ada kemauan. Positif thinking berapapun hasil yang diperoleh. Semua akan menjadi kenangan yang indah kelak. Saat khawatir bagaimana akan menyimpan asip tanpa kulkas, saat pernah sulit mencari tempat yang aman untuk pumping, saat perasannya sedikit, saat membawa perlengkapan asi ke kantor (segambreng bawaannya) hehehe…sampai lirikan mata orang-orang seolah olah berkata “ih, bu guru bawa apa sih? banyak banget”, saat stok habis lalu ngebut pulang ke rumah dan cerita-cerita lainnya.

sertifikat[1]

Namun semua kerepotan itu langsung hilang saat jari mungilnya dimainkan, eye contact, skin to skin, amazing sekali saat saat menyusui langsung, walaupun sedang lelah pulang kerja tapi tetep hayuuk aja lah.. demi anak tercintaa…:-)

Tidak ada alasan untuk berhenti menyusui apalagi support dari abi yang sangaaat besar. Abi yang sering masak sayur, bantu mensterilkan dan mengeringkan breastpump, gendong qonita, hampirr setiap hari menyiapkan bekal untuk umi (padahal harusnya saya yang nyiapin…), nyuci baju, nyuci piring, selalu siaga jadi kurir asi, pokoknya abi asi banget lah. Sangat terharu dan maluu bingitts, melihat abi yang lebih semangat menyiapkan segala sesuatunya. Abi yang selalu lebih cepat. Padahal saya yang bangun lebih awal, hihihi…atau saya yang memang super lambaat :p

lovely abi

lovely abi

Setiaptetesnya bernilai pahala. Semoga bisa sampai S-4 yah. Aamiin..aamiin.. ya Rabb….

Happy breastfeeding

#ayahasi #celebrate #asix

Surat dari Ibonk Family

Ibonk Family adalah sebutan untuk kelas VIII Al Khawarizmi. Siswa putra tempat saya mengajar.

Pada suatu hari…..

“umi…umi…ada surat  dari Rama, katanya dibuka nanti aja”. Celoteh salah seorang anak di kelas VIII Al Khawarizmi sambil menyodorkan surat kepada saya. “oh iya, terima kasih ya” jawab saya.

Lalu seperti biasa saya memulai pelajaran di kelas. Deg-degan juga sih, karena masih kepikiran dengan surat itu. Kira-kira isinya apa ya? Apalagi anak yang ngirim surat tersebut adalah anak super…hehe…supermen kali.

Flash back…..

Rama a.k.a Muhammad Dinadri adalah anak yang istimewa di kelas VIII Ibnu Khaldun. Pengalaman pertama kali ngajar dia sampai sekarang masih geregetan. Anaknya aktif, nggak bisa diem, cerewet, tapi rasa setia kawannya tinggi sekali. Pernah  beberapa kali absen saat pelajaran saya dan ketahuan ********* saat UTS. Kemudian, teman se-genknya di DO dari sekolah gara-gara ada kasus dan dia di skorsing. Sempat juga ngejar-ngejar dia buat remedial. Nilai-nilainya kacau semua….

Bagi saya apapun label yang diberikan kepadanya, dia tetaplah seorang anak yang baik. Masih ada harapan, untuk merubahnya.  Akhirnya saya berinisiatif mengajaknya untuk mengikuti “klibel” (klinik belajar). Walaupun berjalan baru satu kali, tampaknya  rama terlihat senang sekali karena dia merasa diperhatikan oleh gurunya (^_^)v

Pada pertemuan berikutnya rama mengikuti remedial. Dan, woww… subhanallah dia sangat berusaha sekali untuk mengerjakannya “sendiri”, meskipun sesekali suaranya terdengar seperti kicauan burung. Hehe… peserta terakhir remedial adalah rama, dan saya tetap setia mennggu di sampingnya sambil memberikan support. “Ayo rama kamu pasti bisa, coba inget-inget lagi materi yang ibu kasih kemarin”.  Saat detik-detik terakhir, di atas kepalanya mungkin telah muncul bintang satu per satu….”ah…udah bu, ah saya nggak bisa. Pasrah!”.

Hhmmm… ya udah deh kalau begini biasanya dia langsung kabur keluar kelas. Tuh bener kan….

*****

Jam pelajaran selesai, kemudian saya kembali ke ruang guru dan membuka  suratnya. Surprise!!! Jujur deh saya terharu banget membacanya. Ini dia suratnya…

 

The best teacher umi Miftah.By ‘Ibonk family’

Semenjak hari itu, rama mulai berubah perlahan dan insya Allah pasti akan terus menjadi lebih baik. Salut dengannya. Terbukti hasil UTS kemarin nilainya mengalami peningkatan, walaupun masih kecil tapi patut untuk di apresiasi.

Terima kasih Rama atas perstasinya, semoga kamu jadi anak soleh.

28 maret 2012

kelas VIII Ibnu Sina

Hari itu saya menangis. Keluar meninggalkan kelas dan tidak kembali lagi. Rasanya ubun-ubun saya mendadak panas dan mengeluarkan asap (lebay ^^). Menghadapi kelas yang satu ini benar-benar membuat saya frustasi. Entah bagaimana caranya mengajar di kelas ini. Kelas VIII Ibnu Sina. Fuiiihh…

 

Bermula dari seorang anak bernama AS yang terkena kasus berat dan terancam DO. Semenjak itu sikapnya mulai aneh, semakin bertambah nakal di kelas. Katanya percuma menjadi baik, karena merasa sudah di labeli sebagai anak nakal. Ditambah seorang anak lagi. Siswa yang baru beberapa bulan mutasi dari Malaysia. Namanya EP.

Bel masuk setelah jam istirahat sudah 10 menit yang lalu berbunyi. Tapi mereka belum datang, maka saya tetap memulai aktivitas mengajar sejak tadi. Dalam hitungan 5 menit lagi jika mereka tidak datang, tidak akan diizinkan masuk. Tapi ternyata mereka beruntung saat waktunya hampir habis, mereka datang.

Dengan watados (wajah tanpa dosa) mereka masuk sambil membawa makanan di dalam kelas. Saya menjelaskan, mereka ngobrol. Oke, saya berikan peringatan 1. Kemudian mereka minum, saya berikan peringatan 2. Kemudian dengan nada yang meremehkan mereka menimpali setiap saya bicara. Terakhir mereka nantangin dengan makan di hadapan saya langsung. Sampai akhirnya saya menghampiri meja mereka.

Saya bilang, “hey, kalian mau belajar atau tidak? Kalau mau makan silahkan di luar. Kamu mau keluar atau ibu yang keluar!”. Sudah nggak kuat lagi, akhirnya mendadak langkah kaki saya gemetar. Ada seorang anak yang berbicara dengan saya tapi tidak saya perdulikan. Khawatir meledak saya pun keluar kelas dan tidak kembali lagi. Padahal buku-buku saya masih di meja.

Awalnya hanya ingin menenangkan diri saja, sekedar menurunkan emosi di ruang guru. Tapi malah tambah kejer. Keluar deh air mata T_T, sedih sekali saat itu. Khawatir ketahuan saya sembunyi di ruang TU. Mulai terdengar anak-anak mencari-cari saya….ingin meminta maaf katanya.

Ya Allah, harus bagaimana saya menghadapi keadaan seperti ini. Saya merasa gagal mengendalikan emosi di hadapan anak didik saya. Walaupun menurut guru-guru yang lain sikap saya sudah tepat. Sekali-kali mereka harus diberikan shock terapi. Tapi lagi-lagi saya kalah dengan keadaan seperti ini.

Keesokan harinya saya mengajar di putra. Sebenarnya masih trauma >_< . Saya melihat AS di koridor atas. Heuu, menyebalkan saya belum sempurna menstabilkan emosi malah di panggil-panggil lagi sama dia. “Bu, Bu miftah…Bu, saya minta maaf bu…ah di kacangin…jero ah…..bla..bla…” sambil teriak dari koridor atas. Saya hanya diam aja, so cool.

Keesokkan harinya lagi, pas banget anak itu ada di tangga dekat lapangan. Mengulang hal yang sama seperti kemarin dengan meminta maaf. Dengan keberanian yang penuh saya berucap “Apa AS…?”. “bu, saya minta maaf bu”. Sambil lewat saya katakan “iyaa..”.

Anak-anak itu membuat saya selalu belajar memaknai setiap peristiwa bersama mereka. Inilah seni membentuk manusia. Perlu manajemen tingkat tinggi dalam menghasilkan manusia berkualitas. Di sinilah saya belajar menjadi seorang guru peradaban.

~_~

Berprasangka baik kepada anak yang berperilaku baik adalah hal mudah.Akan tetapi membangun prasangka baik terhadap anak yang bertingkah buruk,bagaimana memulainya??

Potongan Cinta untuk Guruku

Hari ini. tepatnya tanggal 25 Nopember 2011 adalah hari Guru.

Saat pagi-pagi datang ke sekolah (kebetulan jadwal mengajar di Putra), semua meja guru menjadapat sepucuk surat cinta. Surat itu berasal dari seorang murid berinisial RMI yang mengatasnamakan murid SMPIT As Syifa. Dia menulis sebuah puisi yang berjudul “Potongan Cinta untuk Guruku”.

Subhanallah….terharu membacanya…..

Terima kasih Raihan Muhammad Ihsan

~^_^~

PUSPA ; Pungut Sampah buang Pada Tempatnya

Namanya Dzulfikar Ali Hafiz. Anak yang cerdas dan bersahaja. Saya hafal namanya sejak dia minta di ajarkan biologi karena pekan sebelumnya tidak hadir di bimbel.

Entah kenapa rasanya saya sangat tertarik sama anak itu. Dia ramah, pandai dan selalu memperhatikan dengan serius saat belajar di kelas. Kalau saya bilang saya kagum karena kepintarannya mungkin sudah wajar dan biasa. Secara, dia masuk ke dalam kelas A.

Baca lebih lanjut

Belajar jadi guru

Guru Fisika : A kamu sudah ulangan apa saja?

A : kalau Fisika belum, tapi kalau biologi sudah ulangan? Bun, Bun, kalau sama Bunda Miftah ulangannya baru sekali tapi kuisnya banyak banget. terus kalau ngajar lembut banget. tapi aku suka….aku suka….

Guru Fisika :

Guru Biologi : gayaku mengajar emang kayak gini. susah dah buat di rubah-rubah.

******

Guru Asrama : kemarin ada anak yang curhat ke orang tuanya. dia bilang pelajaran biologi ulangan terus (maksudnya kuis). udah gitu gurunya pernah salah jadwal lagi….

Guru Biologi : hhmm…gitu ya. Padahal semakin banyak kuis kan semakin mudah nyicil materi buat UTS.

*******

Guru Biologi : C, bunda terlalu banyak kuis ya? kalian merasa berat?

C : nggak kok bun, justru aku suka… jadi belajarnya enak tiap hari. pas ulangan udah selesai deh tinggal review dikit aja belajarnya.

Guru Biologi : alhamdulillah

*******

Begitulah anak-anak yang belajar Biologi. Maaf ya nak, gurumu baru belajar menjadi “guru” yang baik. Masih nyoba yang ini dan yang itu untuk menemukan format belajar yang efektif dan menyenangkan…..

Allah….bantu hamba untuk berproses menjadi guru sejati, gurunya manusia Allahumma aamiin……..