Oishi Ramen

OISHI RAMEN

Jpeg

Ebi ramen

Kedai jepang sederhana ini selalu menjadi tempat favorite saya dan suami… masya Allah mie ramennya luarr biasa, “pecah!” Hehehe:-) .
Pertama kali nyoba saat tempatnya masih sekitaran alun-alun Purworejo, sekarang pindah sebelah barat SMAN 1 pwrj…. yang berkunjung banyak, sampai ngantri…. parkirnya aja penuh banget….. .
Seperti kemarin dengan cuaca yang cukup panas kami pesan chicken ramen dan ebi ramen ditemani lime shake, cesss…… yummy banget dan segerr…. Kalo berkunjung ke Purworejo, mampir yah.. dijamin pingin balik lagi… .
Yang paling seneng yang punya kedai ini muslim yang taat, Insya Allah… .
#oishi #ramen #kuliner #Purworejo #lunch#instafood

Bagamana Menjadi Guru Inspiratif?

Ada artikel yang menarik yang ditulis oleh pakar manajemen Rhenald Kasali pada harian Kompas terbitan tanggal 29 Agustus 2007 dengan judul GURU KURIKULUM DAN GURU INSPIRATIF. Kutipanya yaitu :

“Ada dua jenis guru yang kita kenal yaitu guru kurikulum dan guru Inspiratif. Guru kurikulum sangat patuh pada kurikulum dan merasa berdosa bila tidak bisa mentransper semua isi buku yang ditugaskan. Ia mengajarkan sesuatu yang standar (habitual thinking) dan jumlahnya sekitar 99%. Sedangkan guru inspiratif jumlanya kurang dari 1%. Ia bukan guru yang mengejar kurikulum tetapi mengajak murid-muridnya berfikir kreatif (maximum thinking). Ia mengajak murid-muridnya melihat sesuatu dari luar (thinking out of box) mengubahnya di dalam lalu membawa kembali keluar, ke masyarakat luas. Guru kurikulum melahirkan manajer-manajer handal, guru inspiratif melahirkan pemimpin-pembaru yang berani menghancurkan aneka kebiasaan lama.”

Baca lebih lanjut

Alergi dengan orang kaya dan pintar

Foto dari Google

Foto dari Google

Dulu, saya paling alergi melihat orang yang kaya dan pintar. Sebenernya sampai sekarang juga sih, tapi alhamdulillah rasa alergi tersebut telah dibingkai dengan sudut pandang baru sebagai seorang muslim sehingga tidak menyebabkan gatal-gatal atau iritasi ::halah::

Mungkin kesalahan cara pandang saya ini salah terhadap mereka. Saat masih kecil, keluarga saya adalah keluarga yang sederhana –sampai sekarang juga sih- dan terbiasa hidup apa adanya.  Ayah dan ibu sepertinya tidak pernah memberikan benda-benda istimewa yang kami minta. Mereka hanya mengusahakan satu hal agar semua anak-anaknya bisa sekolah hingga jenjang yang paling tinggi.

Dulu saya menganggap orang pintar dan kaya selalu punya level dalam berinteraksi dan bersosialisasi. Mereka memiliki kecenderungan bergaul dengan orang-orang yang ‘sekufu’ saja. Hmm…makanya saya suka nggak PeDe dengan mereka. Contohnya aja sepupu saya yang dari keluarga ayah, rata-rata kuliah di FK dan univ ternama di Indonesia. Beuhh…ini nih yang membuat minder banget.

Tapi ternyata saya salah… sebagaimana dengan saya yang berinteraksi dengan orang lain yang tidak kuliah misalnya maka perasaannya sama saja. Nggak ada bedanya kok. Teman ya teman, nggak ada hubungannya dengan kaya atau miskin, bodoh atau pintar.  Kayak itu artinya banyak memberi, pintar itu artinya mau berbagi ilmu dan makna.

Dan nggak ada juga tuh istilah-istilah tersebut di mata Allah. Sebab yang terpenting dari semua itu adalah ketakwaan. kalau yang ini boleh deh kita milih-milih.

Nah dari situ saya bisa menyimpulkan juga bahwa orang-orang kaya dan pintar juga tidak mempermasalahkan “hal-hal yang saya pikirkan” itu.

Haha…ada-ada saja yah 

Alergi dengan orang kaya dan pintar

Dulu, saya paling alergi melihat orang yang kaya dan pintar. Sebenernya sampai sekarang juga sih, tapi alhamdulillah rasa alergi tersebut telah dibingkai dengan sudut pandang baru sebagai seorang muslim sehingga tidak menyebabkan gatal-gatal atau iritasi ::halah::

Mungkin kesalahan cara pandang saya ini salah terhadap mereka. Saat masih kecil, keluarga saya adalah keluarga yang sederhana –sampai sekarang juga sih- dan terbiasa hidup apa adanya. Ayah dan ibu sepertinya tidak pernah memberikan benda-benda istimewa yang kami minta. Mereka hanya mengusahakan satu hal agar semua anak-anaknya bisa sekolah hingga jenjang yang paling tinggi.

Dulu saya menganggap orang pintar dan kaya selalu punya level dalam berinteraksi dan bersosialisasi. Mereka memiliki kecenderungan bergaul dengan orang-orang yang ‘sekufu’ saja. Hmm…makanya saya suka nggak PeDe dengan mereka. Contohnya aja sepupu saya yang dari keluarga ayah, rata-rata kuliah di FK dan univ ternama di Indonesia. Beuhh…ini nih yang membuat minder banget.

Tapi ternyata saya salah… sebagaimana dengan saya yang berinteraksi dengan orang lain yang tidak kuliah misalnya maka perasaannya sama saja. Nggak ada bedanya kok. Teman ya teman, nggak ada hubungannya dengan kaya atau miskin, bodoh atau pintar. Kayak itu artinya banyak memberi, pintar itu artinya mau berbagi ilmu dan makna.

Dan nggak ada juga tuh istilah-istilah tersebut di mata Allah. Sebab yang terpenting dari semua itu adalah ketakwaan. kalau yang ini boleh deh kita milih-milih.

Nah dari situ saya bisa menyimpulkan juga bahwa orang-orang kaya dan pintar juga tidak mempermasalahkan “hal-hal yang saya pikirkan” itu.

Haha…ada-ada saja yah

Moslem’s Dream

Hari ini saya mendapat motivasi dari seorang profesor doktor Agus Priyono. Beliau orang Indonesia yang kuliah di Malaysia. Beliau bersama Rektor dari Darul Na’im Kolej, Klantan Malaysia. Mereka datang ke As Syifa Boarding School (Asbos) untuk mengadakan kerja sama. Bahasa sederhananya program pertukaran pelajar. Ada sekitar 10 orang pelajar dari Malaysia yang akan tholabul ‘ilmi di kampus peradaban ini. Sebagai gantinya tahun depan mereka menerima mahasiswa dari lulusan asbos ini.

Asbos ternyata sudah banyak di lirik banyak orang. Bukan hanya tingkat Nasional saja namun merambah sampai ke Internasional. Usianya yang terbilang masih imut-imut menunjukkan cara berjalan yang masih tertatih sebenarnya, namun orang-orang begitu percaya pada asbos. Bukan imut-imut lagi tapi dianggap sudah bisa berlari kencang. Hhuff…. semoga bisa bertahan!

***

Tadi siang semua guru, karyawan dan wali asrama di undang untuk mendengarkan taujih yang super serius…(hehe).

Langsung ajalah ya…. alhamdulillah kembali saya diingatkan tentang motivasi membangun cita-cita kita. Cita-cita seorang muslim harus melampaui 2 dimensi.

Pertama, dimensi ruang. Allah menginginkan kita untuk menjadi rahmatan lil ‘alamin. Maka cita-cita kita tidak boleh terbatas pada apa yang kita mau saja. Misal: apa cita-cita mu? Jawabannya mungkin beragam, ada yang menjawab: doktor, profesor, insinyur, dokter, guru, dll. Ternyata jawaban seperti ini terbatas pada ruang.

Coba bandingkan antara kita dengan bumi, pasti kita tidak ada apa-apanya toh. Lalu coba bandingkan lagi bumi kita dengan planet jupiter, lalu bandingkan lagi planet jupiter dengan matahari, lalu bandingkan lagi matahari dengan nakturnus (sistem tata surya). Lalu bandingkan lagi dia dengan langit Allah yang berlapis (shidratul muntaha). Akhirnya seorang kita itu bukan siap-siapa toh. Tapi Allah menginginkan kita untuk menjadikan Islam rahmatan lil ‘alamin yang artinya rahmat bagi semesta alam. Itu artinya motivasi cita-cita kita harus tinggi (setinggi langitnya Allah, di arsy sana). Inilah yang dimaksud cita-cita melewati batas ruang.

Kedua, dimensi waktu. Ukuran cita-cita seorang muslim adalah ukuran amalan yang terus berjalan walaupun kita telah meninggal dunia. Allah memberikan rentan waktu kepada kita sampai ke syurgaNya. Maka dalam rentan waktu itu kita musti punya cita-cita tinggi berupa amal jariyah kita yang tidak akan putus pahalanya.

Karya seorang mukmin tidak trbatas pada dunia tetapi tanpa batas. Melebihi luasnya langit dan bumi. Cita-cita kita harus sampai pada tingkatan khalifah fil ardh.

Dan….

As Syifa Boarding school ini hanyalah bagian kecil dari cita-cita besar kita .

Subang, 15 Maret 2011