Category Archives: out of the box

Mudik Asyik With My Duos

Status

mudik

Bismillah,

Ceritanya lagi off jualan selama seminggu ini karena mau fokus dengan mudik. Alhamdulillah dapat pengalaman luar biasa.

Pertama kali melakukan perjalanan jauh bertiga. Sy, zaidan dan qonita. Perjalanan menggunakan Fajar Utama Jogja 2 seat. Selama 6 jam di dalam kereta anak2 bisa terkondisikan. Terutama saat2 sy ke toilet, Zaidan ke toilet dan qonita ke toilet. Adyuhh… tanpa bantuan orang lain lagi…. biasanya ada si dia…

Setelah sampai haurgeulis kami melanjutkan perjalanan selama 1,5 jam naik angkot. Karena sudah ngga ada ayah (embah akung) yg menjemput. Perubahan suhu dari ruangan ber AC di kereta ke AC alami yang puanas cukup membuat sy khawatir anak2 akan kelelahan. Tapi ternyata mereka lebih strong dari pada emaknya. Hihihi… sampai2 Zaidan tertidur di dalam angkot.

Sebelum sampai patrol kami dioper ke angkot lain, hiks bolak balik bawa 2 anak plus 2 tas yg gede. Sampai patrol alhamdulillah langsung dapat elef. Naik lalu duduk di depan. Zaidan mulai tidak sabar dengan terus bertanya “udah mau sampai belum mi?”… kemudian terus berceloteh ” umi kok mobilnya kayak truk ya?”, ” umi, tempat duduknya kok panas ya, kayak kena api?” “Umi, … bla…bla…”. Rasa penasarannya belum habis sejak pertama berangkat. Selalu ada objek yg diamati lalu di ceritakan dan ditanyakan.

Setelah itu sy ngga kuat deh buat jalan. Dipilihkan naik becak, padahal jaraknya cuma 500m. Hehehe…

Setelah sampai, langsung teringat si dia yang pagi harinya mendapat kecelakaan. Syafakallah ya Abine Zaidan baik2 di rumah ya…

Sudah dua hari di Subang, alhamdulillah melihat rumah yang mulai sedikit berubah, ibu yang selalu masakannya paling enak sejagad. Adek kecil yang sholeh tapi sedang “tempe” karena masuk masa aqil baligh. Ketemu adek sholehah dari mesir yang lagi liburan di rumah, saudara2 ayah yg penuh suka cita membersamai kami dalam kebaikan.

Sepi tanpa dia dan dia….

Perjalanan ini membawa angin positif untuk Zaidan dan qonita. Terutama mas Zaidan yang sedikit menjadi lebih dewasa. Kesadarannya untuk dekat dengan masjid dan sholat jamaah mulai terbentuk. Kalau om nya mau ke masjid pingin ikut. Dzuhur saat om nya masih sekolah, dia ajak adiknya buat sholat dzuhur berjamaah. Masyaa Allah. Yakin ini teh bukan sy yang nyuruh. Qonita karena ngga bawa mukena, akhirnya pakai jilbab uminya.

Sy yang lagi di kamar akhirnya sekalian mengambil gambar deh… terharu melihat mereka berdua. So sweet. Meski kadang suka berantem rebut rebutan mainan, tapi kalau sudah kompak lagi ya kayak gini inih.

Barakallah nak, semoga kelak mas Zaidan bisa membimbing adik2nya ya dan jadi saudara yang menguatkan di dunia dan akhirat.

Love my kiddos as always

Sekian 🙂

#happymom #happykiddos

Iklan
Kutipan

OISHI RAMEN

Jpeg

Ebi ramen

Kedai jepang sederhana ini selalu menjadi tempat favorite saya dan suami… masya Allah mie ramennya luarr biasa, “pecah!” Hehehe:-) .
Pertama kali nyoba saat tempatnya masih sekitaran alun-alun Purworejo, sekarang pindah sebelah barat SMAN 1 pwrj…. yang berkunjung banyak, sampai ngantri…. parkirnya aja penuh banget….. .
Seperti kemarin dengan cuaca yang cukup panas kami pesan chicken ramen dan ebi ramen ditemani lime shake, cesss…… yummy banget dan segerr…. Kalo berkunjung ke Purworejo, mampir yah.. dijamin pingin balik lagi… .
Yang paling seneng yang punya kedai ini muslim yang taat, Insya Allah… .
#oishi #ramen #kuliner #Purworejo #lunch#instafood

Oishi Ramen

Bagamana Menjadi Guru Inspiratif?

Standar

Ada artikel yang menarik yang ditulis oleh pakar manajemen Rhenald Kasali pada harian Kompas terbitan tanggal 29 Agustus 2007 dengan judul GURU KURIKULUM DAN GURU INSPIRATIF. Kutipanya yaitu :

“Ada dua jenis guru yang kita kenal yaitu guru kurikulum dan guru Inspiratif. Guru kurikulum sangat patuh pada kurikulum dan merasa berdosa bila tidak bisa mentransper semua isi buku yang ditugaskan. Ia mengajarkan sesuatu yang standar (habitual thinking) dan jumlahnya sekitar 99%. Sedangkan guru inspiratif jumlanya kurang dari 1%. Ia bukan guru yang mengejar kurikulum tetapi mengajak murid-muridnya berfikir kreatif (maximum thinking). Ia mengajak murid-muridnya melihat sesuatu dari luar (thinking out of box) mengubahnya di dalam lalu membawa kembali keluar, ke masyarakat luas. Guru kurikulum melahirkan manajer-manajer handal, guru inspiratif melahirkan pemimpin-pembaru yang berani menghancurkan aneka kebiasaan lama.”

Read the rest of this entry

Alergi dengan orang kaya dan pintar

Standar
Foto dari Google

Foto dari Google

Dulu, saya paling alergi melihat orang yang kaya dan pintar. Sebenernya sampai sekarang juga sih, tapi alhamdulillah rasa alergi tersebut telah dibingkai dengan sudut pandang baru sebagai seorang muslim sehingga tidak menyebabkan gatal-gatal atau iritasi ::halah::

Mungkin kesalahan cara pandang saya ini salah terhadap mereka. Saat masih kecil, keluarga saya adalah keluarga yang sederhana –sampai sekarang juga sih- dan terbiasa hidup apa adanya.  Ayah dan ibu sepertinya tidak pernah memberikan benda-benda istimewa yang kami minta. Mereka hanya mengusahakan satu hal agar semua anak-anaknya bisa sekolah hingga jenjang yang paling tinggi.

Dulu saya menganggap orang pintar dan kaya selalu punya level dalam berinteraksi dan bersosialisasi. Mereka memiliki kecenderungan bergaul dengan orang-orang yang ‘sekufu’ saja. Hmm…makanya saya suka nggak PeDe dengan mereka. Contohnya aja sepupu saya yang dari keluarga ayah, rata-rata kuliah di FK dan univ ternama di Indonesia. Beuhh…ini nih yang membuat minder banget.

Tapi ternyata saya salah… sebagaimana dengan saya yang berinteraksi dengan orang lain yang tidak kuliah misalnya maka perasaannya sama saja. Nggak ada bedanya kok. Teman ya teman, nggak ada hubungannya dengan kaya atau miskin, bodoh atau pintar.  Kayak itu artinya banyak memberi, pintar itu artinya mau berbagi ilmu dan makna.

Dan nggak ada juga tuh istilah-istilah tersebut di mata Allah. Sebab yang terpenting dari semua itu adalah ketakwaan. kalau yang ini boleh deh kita milih-milih.

Nah dari situ saya bisa menyimpulkan juga bahwa orang-orang kaya dan pintar juga tidak mempermasalahkan “hal-hal yang saya pikirkan” itu.

Haha…ada-ada saja yah 

Alergi dengan orang kaya dan pintar

Standar

Dulu, saya paling alergi melihat orang yang kaya dan pintar. Sebenernya sampai sekarang juga sih, tapi alhamdulillah rasa alergi tersebut telah dibingkai dengan sudut pandang baru sebagai seorang muslim sehingga tidak menyebabkan gatal-gatal atau iritasi ::halah::

Mungkin kesalahan cara pandang saya ini salah terhadap mereka. Saat masih kecil, keluarga saya adalah keluarga yang sederhana –sampai sekarang juga sih- dan terbiasa hidup apa adanya. Ayah dan ibu sepertinya tidak pernah memberikan benda-benda istimewa yang kami minta. Mereka hanya mengusahakan satu hal agar semua anak-anaknya bisa sekolah hingga jenjang yang paling tinggi.

Dulu saya menganggap orang pintar dan kaya selalu punya level dalam berinteraksi dan bersosialisasi. Mereka memiliki kecenderungan bergaul dengan orang-orang yang ‘sekufu’ saja. Hmm…makanya saya suka nggak PeDe dengan mereka. Contohnya aja sepupu saya yang dari keluarga ayah, rata-rata kuliah di FK dan univ ternama di Indonesia. Beuhh…ini nih yang membuat minder banget.

Tapi ternyata saya salah… sebagaimana dengan saya yang berinteraksi dengan orang lain yang tidak kuliah misalnya maka perasaannya sama saja. Nggak ada bedanya kok. Teman ya teman, nggak ada hubungannya dengan kaya atau miskin, bodoh atau pintar. Kayak itu artinya banyak memberi, pintar itu artinya mau berbagi ilmu dan makna.

Dan nggak ada juga tuh istilah-istilah tersebut di mata Allah. Sebab yang terpenting dari semua itu adalah ketakwaan. kalau yang ini boleh deh kita milih-milih.

Nah dari situ saya bisa menyimpulkan juga bahwa orang-orang kaya dan pintar juga tidak mempermasalahkan “hal-hal yang saya pikirkan” itu.

Haha…ada-ada saja yah

Moslem’s Dream

Standar

Hari ini saya mendapat motivasi dari seorang profesor doktor Agus Priyono. Beliau orang Indonesia yang kuliah di Malaysia. Beliau bersama Rektor dari Darul Na’im Kolej, Klantan Malaysia. Mereka datang ke As Syifa Boarding School (Asbos) untuk mengadakan kerja sama. Bahasa sederhananya program pertukaran pelajar. Ada sekitar 10 orang pelajar dari Malaysia yang akan tholabul ‘ilmi di kampus peradaban ini. Sebagai gantinya tahun depan mereka menerima mahasiswa dari lulusan asbos ini.

Asbos ternyata sudah banyak di lirik banyak orang. Bukan hanya tingkat Nasional saja namun merambah sampai ke Internasional. Usianya yang terbilang masih imut-imut menunjukkan cara berjalan yang masih tertatih sebenarnya, namun orang-orang begitu percaya pada asbos. Bukan imut-imut lagi tapi dianggap sudah bisa berlari kencang. Hhuff…. semoga bisa bertahan!

***

Tadi siang semua guru, karyawan dan wali asrama di undang untuk mendengarkan taujih yang super serius…(hehe).

Langsung ajalah ya…. alhamdulillah kembali saya diingatkan tentang motivasi membangun cita-cita kita. Cita-cita seorang muslim harus melampaui 2 dimensi.

Pertama, dimensi ruang. Allah menginginkan kita untuk menjadi rahmatan lil ‘alamin. Maka cita-cita kita tidak boleh terbatas pada apa yang kita mau saja. Misal: apa cita-cita mu? Jawabannya mungkin beragam, ada yang menjawab: doktor, profesor, insinyur, dokter, guru, dll. Ternyata jawaban seperti ini terbatas pada ruang.

Coba bandingkan antara kita dengan bumi, pasti kita tidak ada apa-apanya toh. Lalu coba bandingkan lagi bumi kita dengan planet jupiter, lalu bandingkan lagi planet jupiter dengan matahari, lalu bandingkan lagi matahari dengan nakturnus (sistem tata surya). Lalu bandingkan lagi dia dengan langit Allah yang berlapis (shidratul muntaha). Akhirnya seorang kita itu bukan siap-siapa toh. Tapi Allah menginginkan kita untuk menjadikan Islam rahmatan lil ‘alamin yang artinya rahmat bagi semesta alam. Itu artinya motivasi cita-cita kita harus tinggi (setinggi langitnya Allah, di arsy sana). Inilah yang dimaksud cita-cita melewati batas ruang.

Kedua, dimensi waktu. Ukuran cita-cita seorang muslim adalah ukuran amalan yang terus berjalan walaupun kita telah meninggal dunia. Allah memberikan rentan waktu kepada kita sampai ke syurgaNya. Maka dalam rentan waktu itu kita musti punya cita-cita tinggi berupa amal jariyah kita yang tidak akan putus pahalanya.

Karya seorang mukmin tidak trbatas pada dunia tetapi tanpa batas. Melebihi luasnya langit dan bumi. Cita-cita kita harus sampai pada tingkatan khalifah fil ardh.

Dan….

As Syifa Boarding school ini hanyalah bagian kecil dari cita-cita besar kita .

Subang, 15 Maret 2011