Pembagian tugas Ibu bekerja

Bismillahirrohmanirrohiim…

Bunda-bunda sholihah sekalian (aamiin..aamiin.. ya Rabb)
Bekerja bagi seorang ibu rumah tangga adalah sebuah seni. Menurut saya loh ~,~ banyak hal yang perlu dimenej saat seorang ibu memutuskan untuk bekerja di luar rumah.

Pilihan dengan konsekuensi yang logis… sejak awal menikah saya sendiri sudah memiliki kesepakatan bersama suami. Ada hal-hal yang tetap harus dilaksanakan sebagai seorang istri/ibu di rumah walaupun bekerja di luar. Meski ada asisten di rumah, tetap kita membagi pekerjaan. Bukan berarti saya lepas tanggung jawab. Ketika saya di rumah pengasuhan anak menjadi bagian saya, dan sebaliknya kewajiban momong anak menjadi amanah bagi khadimat (asisten RT). Lalu bagaimana dengan tugas rumah tangga?

Urusan pekerjaan rumah tangga tanggung jawab saya dan suami. Sejak awal punya khadimat, kami tidak membaginya secara langsung kepadanya. Karena kami tau momong dua anak sekaligus yang masih kecil-kecil itu merepotkan sekali. Tapi alhamdulillah khadimat rajin sekali, sering saya melihat dengan kesadarannya sendiri, selalu membantu kami…. bersyukur sekali….

Inilah pembagian pekerjaan bersama suami ;

Pagi buta : istri bangun terlebih dahulu, kalau lebih dini hari lagi menyempatkan qiyamulail. Sekitar jam 04.00 untuk racik-racik, masak air, perah asi…lalu sholat subuh, mandi kemudian srengg..masak… (dengan asumsi baby belum bangun, tapi kalau sudah yaa nitip sama abinya untuk menjaga sebentar).

Pagi hari : sekitat pukul 05.30, masak air untuk mandiin baby sambil prepare perlengkapan kerja (pompa asi, botol kaca, cooler bag, sedikit cemilan, air bening, kelengkapan kantor). Sambil nunggu air mendidih suami gantian mengunakan kamar mandi untuk mencuci baju saya, dia, dan 2 anak kami..heheheh..

Target semua beres jam 06.45…
Karena suami jam kantor lebih siang maka dia yang mengajak main anak pertama dan menyuapi makan, kadang gantian…

jam 07.00 khadimat datang, saya berangkat…

pulang pukul 15.30 langsung mandi dan sholat ashar. Khadimat pulanb. Jam 16.00 jalan2 dengan dua bocil nganter TPQ di masjid… kadang masak, tapi kalau sore seringnya beli… 🙂

malam hari : racik-racik, perah asi, ngeloni anak, me~time.., kadang setrikaan (tapi agak jarang)
Jam 20.00 seringnya sudah tepar, hehehe…tapi jam 11 bangun lagi dan ngga bisa tidur jadi kadang di lanjut sterilisasi pompa asi, botol, dsb….

Hampir setiap hari siklusnya seperti itu….

Ini hasil racik -raciknya

r

Racik-racik

nah, kalau hari libur biasanya jalan2 dan menyiapakan cemilan sedrhana.. misalnya membuat jus jambu, susu kedelai, agar2, membeli buah, dll

Cemilan sederhana

Cemilan sederhana

Sekian. Semoga asupan makanan keluarga kita bisa terjaga ya, walaupun kita sibuk bekerja… walaupun kelihatannya pekerjaan yang dibagi sedikit tapi sebenarnya buntutnya panjang sekali loh… dan dari yang sedikit itu mudh2n bisa menjadi amalan unggulan… 🙂

Salam hangat,

Iklan

Pendidikan Karakter VS Pembunuhan Karakter

Bagi saya, jadi pengawas UN itu TEKANAN BATIN. Beban moral yang ada di pundak kita bukan sekedar pada pengawasan siswa di kelas tapi juga pengawasan pihak sekolah secara khusus tim Pokja. Bayangkan selama empat hari itu, UN dirancang sebegitu rupa. Mungkin ini sudah jadi rahasia umum di tiap sekolah tapi ini adalah sebuah kesalahan fatal dalam sebuah pendidikan.

Pengawas dari sekolah kami terkenal sangat ketat sehingga beberapa sekolah ada yang sama sekali menolak kehadiran kami. Okelah kita maklum kalau mereka nggak mau “diganggu” dengan aktivitas tahunannya itu. Pengalaman dua tahun terakhir selalu ada kasus yang ditemukan saat UN dan ketika ada pengawas kami melaporkan masalah kecurangan saat UN ke dinas pendidikan eeehh malah sekolah kita yang kena teguran. Jadi kegiatan itu semacam sudah tersistem begitu.

Pagi itu, saya dan tiga rekan guru dari sekolah bervisi membangun peradaban mendapatkan tugas negara untuk menjadi pengawas UN di sebuah pesantren junior modern. Dari namanya sudah bernafaskan islami, kita singkat saja RJ. Kami ber-empat baru pertama kali ngawas UN di sekolah ini. Kalau denger cerita-cerita tahun kemarin luar biasa,berbagai metode digunakan untuk “mensukseskan UN mereka”, termasuk tahun ini. Ada beberapa temuan di sana yang membuat hati miris terluka.

Pendidikan karakter yang di gembar-gemborkan oleh Pemerintah seolah tidak ada artinya sama sekali. Selama tiga tahun murid di tempa untuk berakhlak yang baik, beribadah yang benar dan berwawasan luas namun dalam waktu empat hari kemarin semua kerja-kerja mulia guru “ditewaskan” dalam sekejap.

Secara, namanya juga pesantren pasti ada harapan bahwa anak-anaknya akan di cetak menjadi sosok dai yang mampu merubah masyarakatnya ke arah yang benar. Jadi secara logika pasti dalam ujian negara ini pun mereka akan jujur. Tapi sangat disayangkan bahwa pada kenyataannya tidak seperti itu. Hhhuuufffffftttt…

Duh..duh….maf…maaf… jadi esmosi jiwa nih.

Langsung saja, saya akan merangkum kejadian mbatin, lucu, terharu dan konyol selama empat hari kemarin:

Saat pengawas UN datang (kami berempat.red) di sambut dan di kawal dengan wajah manis. Setiap beberapa meter ada yang standby dan menyambut kami. Semua siswa kelihatan deg-degan karena tau pengawas dari sekolah kami terkenal ketat.

Brefing hari pertama kami di arahkan untuk “mensukseskan UN mereka” dan bisa di ajak kerja sama. Memperlakukan murid mereka sama dengan murid kami. (oh iya jelas banget, kami memperlakukan anak-anak kami di sekolah dengan tidak segan-segan merampas kertas ujian jika ketahuan mencontek. dalemhati.com)

Hari pertama : seluruh anak-anak sudah siap stand by di posisi masing-masing. Wow rapih sekali. Ketika ujian, beberapa anak ada yang ngelirik terus ke arah pintu. Ohh, ternyata ‘komando’ ada di luar, rupanya pintu sengaja di ganjal pake tempat sampah supaya sang panitia bisa memberi kode ke siswa. Posisi duduk juga dibuat agak rapat.

Setelah UN hari pertama selesai, kami menuju ruang pokja. kami tidak di perkenankan menyegel amplop LJKUN alasannya “nanti saja oleh kepsek di dampingi polisi saja bu yang menyegel”. (padahal selama empat hari tidak ada satu pun polisi yang mengawas UN).

Hari kedua : ceritanya ingin idealis. Setelah beberapa temuan kemarin saya dan bu Sri merancang strategi hari kedua. Mereka main cantik….maka kita harus lebih cantik lagi…. hari kedua, pintu di tutup alasannya silau (hihi ngarang dikit). Terus anak-anak kita awasin lebih ketat lagi tapi tetep dengan gaya cool dan ramah gitu…

Lucunya, setelah pengisian identitas ada anak-anak yang mulutnya komat kamit. Pikir saya, emangnya bahasa inggris ada hafalannya ya? (Hihihi….kayaknya sih komat kamit menghafal kunci jawaban). Dilanjutkan dengan keliling ruangan, saya memeriksa LJK siswa. eehh saat di barisan ke dua, ada siswa yang tegang banget nggak mau ngangkat naskah soal padahal kan saya Cuma pingin lihat identitasnya udaah lengkap atau belum (makin curiga deh)

Terakhir kita nggak mau tandatangan Pakta Integritas sebelum melihat langsung penyegelan. So, mereka nurut deh (tapi belakang saya dengar hari kedua ini jadi perbincangan hangat di kalangan mereka, biarkan saja).

Hari ketiga : ternyata sistuasi ketegangan UN menimpa sekolah kami. Pasalnya ada pengawas dari sekolah kami yang kebetulan mendapat temuan di SMPN * JLC. Jadi ceritanya begini dua hari berturut-turut ada anak yang menjatuhkan kunci jawaban, lalu oleh pengawas sekolah kami dimasukkan ke dalam berita acara. Heboh. Sekolah tersebut yang juga sebagai komisariat itu “marah”. Tidak terima karena sekolah kita dianggap tidak kooperatif. Kemudian pihak sekolah itu menelpon Kepsek kami dengan nada ancaman dan menjarkom 15 pengawas yang mendapat tugas di sekolah kami untuk memperketat pengawasan di sekolah kami.

Al hasil, anak-anak kami kena imbasnya. Mereka di cuekin, di jutekin, ada lagi yang tidak memeriksa kembali lembar identitas, si pengawas langsung saja menyegel LJKUN di dalam kelas dan sebagainya. Ya Allah berilah pertolongan epada anak-anak kami….

Sementara di tempat saya mengawas: masih di hari ketiga dengan jadwal matematika. Ceritanya sambil ngawas saya tilawah lalu nggak sengaja pas saya noleh ke arah siswa yang ada di baris depan sebelah pintu. Dia mau masukin sesuatu ke dalam sakunya. Pluk… tiba-tiba ada kertas yang terjatuh, langsung aja deh saya ambil. Hohoho….dahsyatnya ternyata selama ini masing-masing mereka dapet kunci jawaban. Ketikan pulak. Bener-bener terorganisir banget. Bahkan sudah sesuai dengan denah tempat duduk mereka.

Langsung aja saya komunikasikan dengan rekan saya. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan ; (salah satunya ancaman dari sekolah lain tadi malam.red) kami memutuskan untuk bicara baik-baik dengan kepsek sekolah tersebut. Saya menyampaikan apa yang saya temukan kepada Kepsek. Keliahatan banget wajah beliau tegangnya bukan main, pastinya malu banget. (kalo aye yang jadi kepsek udah nggak punya muka kali, maluuuuuuuuuuuuuuuu deh).

Jujur nih pas nemuin tuh contekan, rekan yang ada di sebelah saya nangis dan saya pun sedih banget. Karena kita inget sama anak-anak di sekolah. Mereka sudah belajar maksimal, sudah itikaf, sudah qiyamulail, sudah duha….. Mereka belajar mati-matian di masjid ad duha dan di asrama sedangkan di sekolah lain anak-anaknya tinggal menghafal kunci jawaban. Sungguh ironis!!

Saya merasa tidak berguna jadi pengawas, seperti boneka saja. Mau bertindak sesuai peraturan, inget anak-anak. Khawatir mereka yang justru di curangi. Untungnya anak-anak sudah di kondisikan sebelumnya dengan selalu memberikan motivasi untuk senantiasa jujur. Ketika penyegelan pun kita tidak seperti hari sebelumnya, tidak ikut mendampingi. Kata rekan saya yang kebetulan wakasek, percuma juga disegel sama kita toh jawaban mereka juga sudah sama semua.

Lucu ngelihat kertas coretan matematika mereka. Ada yang masih putih polos, ada yang mengisi dengan tambah-tambahan, ada juga yang malah gambar, ada lagi yang nulis-nulis nggak jelas. Ketauan banget kan nggak mikirnya.

Disini banyak Lintang (Laskar pelangi) tapi ada bedanya sedikit. Kalau Lintang di laskar pelangi melamun sambil menghitung kalau siswa di RJ melamun karena nunggu bel selesai. Aya-aya wae.

Hari keempat : Suasana berubah agak kaku, tapi ibu-ibu mah pinter tetep bisa basa basi. Tumben kita nggak dikawal seperti biasa. Ruang pokja juga masih tertutup pintunya. Hehe…

Anak-anak kelihatan pura-pura soalnya sulit padahal dari kemarin tenang2 aja. Ada yang selalu melihat ke arah saya, ya sudah saya liatin aja terus sampai dia malu sendiri. Sambil ngawas saya diskusi dengan bu sri terkait dengan kondisi UN yang parah banget. Beliau malah berencana pingin menggugat UN. Dan memang tata tertib yang ada di amplop itu nggak ada kekuatan hukumnya buat pengawas. Secara bahasanyapun multitafsir.

Tapi saya berpandangan agak berbeda dengan beliau. Saya merasa jalan yang sudah kita tempuh ini pastinya sudah di ‘koordinasikan’ dengan pimpinan sekolah. Visi kita jauh ke depan. Kita juga pastinya pingin menjaga hubungan baik dengan sekolah-sekolah di sini, dengan itu barulah kita akan mengajak mereka untuk inget Allah (dakwah.red). Mungkin saat ini kita menyampaikannya lewat hikmah dulu, tidak dengan cara frontal. Karena nanti mereka justru akan semakin menjauh dari dakwah kita. Salah satu cara untuk memperkuat dakwah kita yo dengan cara menghindari bentrokan dulu.

Saya kembali keliling dan menemukan kejadian lucu lagi. Hebat ya, baru satu jam mereka sudah hampir menyelesaikan soalnya.

15 menit sebelum selesai saya kembali keliling. Lucu, ada anak yang saya sudah tau di selesai dari tadi. Nah, ketika saya mendekat dia malah pura-pura ngerjain lagi….hihihi..percuma kali aktingnya udah nggak berpengaruh.

Trus ada lagi yang ketahuan lagi gambar. Gambar apa coba? Dia gambar saya lagi baca buku dan di sebelahnya ada bu sri… hehehe..kalo yang ini saking lamanya nunggu bel kali tuh….. adalagi yang nulis ‘ihh bete deh UN, pingin cepet keluar’. udah selesai sih….

Yang ini hal terkonyol lagi : pas pulang kita dikasih insentif. Di form tandatangan disitu tertulis jumlah 400ribu eeehhh ternyata yang di amplop cuma 200ribu. Ketika sampai di rumah baru ditelpon katanya uang yang 200ribu dari yayasan tidak jadi keluar. Hue..hue…hue… udah tau begitu kenapa juga di form tandatangannya di tulis 400ribu. Anehhhhh banget dah.

Jujur deh, mau dibayar sejuta atau semiliar juga sesungguhnya semua itu tidak akan terbayar dengan rasa kecewa kami sebagai pengawas. Sebel !

Finally, selesai juga kerja kita jadi pengawas………
Ya Rabb, sesungguhnya pertolonganMu sangat dekat pada hamba yang sudah berusaha maksimal dalam belajar dan bekerja. Murid kami telah berusaha jujur dan kami pun sebagai pengawas telah berusaha mengingatkan pihak sekolah. Tinggal God the rest….kami tawakal menyerahkn segala hasilnya padaMu.

***mari kita lihat 20 tahun mendatang, bagaimana generasi kita yang UN-nya jujur dan yang tidak jujur. Seraya tetap mendoakan keduanya agar diberikan hidayah dan keistiqomahan dalam menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya.

Subang, 26 April 2012

Curcol akhir bulan, semoga ada nilai positif yang bisa diambil